03 Agustus 2010

Persangkaan-persangkaan yang salah

"... mereka menyangka bahwa ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya,..."
(Lukas 2 : 44)

Maria dan Yusuf kehilangan Anak Allah - Yesus Kristus - pada akhir Hari Raya Paskah Besar. Di sepanjang perjalanan pulang, mereka menyangka Yesus berada di antara mereka. Maria menyangka Dia berjalan bersama Yusuf dan Yusuf berpikir Dia pasti bersama ibuNya. Tetapi, waktu mereka mengetahui bahwa Yesus 'hilang', mereka panik; lalu mereka berdua kembali ke Yerusalem. Ditemukanlah Yesus di Bait Allah.
Banyak orang Kristen hari ini terlalu sibuk dengan segala macam kegiatan, sehingga mereka menyangka Yesus masih berada di antara mereka. Bila hidupmu terasa kering dan hatimu terasa hampa, sadarlah bahwa kau telah kehilangan Dia; perbaiki kembali hubungan dengan Dia - seperti Maria dan Yusuf - kembali ke tempat di mana engkau kehilangan Dia.
Seorang hamba Tuhan yang terkenal berkata, "Orang Kristen yang terlalu sibuk dengan segala macam pekerjaan, menyangka Dia masih bersama mereka; tetapi sesungguhnya Dia sudah tidak ada. "Ada sesuatu hal yang membuat Roh Kudus tak mungkin lagi bersekutu dengan kita di dalam kesibukan kita. Dalam aktivitasmu dan hari-harimu yang penuh dengan kesibukan, kau telah berjalan jauh pada jalanmu sendiri. Tatkala kau mengalami krisis dan pencobaan, hatimu jadi tawar dan dingi, sebab 'kehangatan' persekutuan dengan Dia sudah tiada. Roh Kudus hanya dapat tinggal di dalam hati yang tenang. Kau harus mengadakan waktu yang khusus untuk tinggal diam dalam hadiratNya, tinggalkan sejenak segala kesibukanmu, carilah kehadiranNya.

Roh Kudus hanya dapat tinggal di hati yang tenang!

Sumber : Air Hidup

Si Pembual

"Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab Tuhan akan memusnahkan kota ini."
(Kejadian 19 : 14)

Waktu Allah hendak membinasakan Sodom yang penuh dengan kejahatan. Dia mengutus kedua malaikatNya untuk memperingatkan Lot agar meninggalkan Sodom sebelum api dan belerang turun atas penduduk yang jahat itu. Lot meminta kedua calon menantunya menyingkir dari kota itu sebelum terkena hukuman. Tetapi, mereka tidak mau menghiraukan. Mereka cinta dan senang tinggal di kota itu, bahkan sebaliknya mereka mengatai Lot sebagai Pembual yang berolok-olok. Mereka menutup telinga terhadap peringatan-peringatan Lot.
Keadaan zaman tidak berubah, demikian pun hari ini. Jika seorang pengkotbah memperingatkan orang mengenai dosanya agar mereka mau meninggalkan hidup lama, maka acapkali pengkotbah itu ditertawakan, bahkan diejek, disebut pembual, tukang jual jamu, tukang loak dan sebagainya. Memang setiap orang yang mencoba memulihkan suatu kebenaran pasti akan dicemooh dan dimusuhi.
Nuh juga disebut si pembual dan pembuat sensasi, mungkin juga dianggap sudah gila, tak ada hujan tak ada angin membuat kapal sebesar itu. Nabi-nabi yang menubuatkan kehancuran Yerusalem pun dituduh membual.
Dengan resiko yang sama, hari ini kami pun bertanya pada Saudara : "Apakah kau masih tinggal di 'Sodom' yang penuh kejahatan dan dosa serta mengabaikan seruan Tuhan untuk secepatnya 'lari dari penghukuman yang akan datang?' "Larilah, selamatkanlah nyawamu;..." (Kejadian 19 : 17). Bertobatlah segera! Mungkin ini peringatan yang terakhir bagimu, siapa tahu hari esok sudah bakal tak kau lihat lagi! 'Jam Kehidupan' tak seorang pun yang tahu 'kapan berhenti berputar'

Jangan terlambat sampai esok pagi: mungkin matahari esok tak akan pernah bersinar lagi bagimu!

Sumber : Air Hidup

02 Agustus 2010

Hak Istimewa Seorang IBU

"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku."
(Mazmur 139 : 13)

Seorang Professor dalam bidang Kedokteran pernah mengajukan sebuah situasi medis yang juga menyangkut masalah etika kepada mahasiswa-mahasiswanya : "Sebuah keluarga memiliki riwayat sebagai berikut. Si Ibu menderita TBC. Mereka telah dikaruniai empat orang anak. Anak yang pertama buta. Yang kedua meninggal. Yang ketiga tuli. Yang keempat menderita TBC. Sekarang si ibu sedang mengandung anak yang ke lima. Kedua orang tuanya mendatangi kalian untuk meminta saran. Mereka bersedia melakukan aborsi, Jika memang itu keputusan kalian. Bagaimana pendapat kalian?"
Para Mahasiswa mengemukakan berbagai macam pendapat, dan kemudian sang professor meminta mereka untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk "berkonsultasi". Semua kelompok melaporkan bahwa mereka menyarankan aborsi. "Selamat," kata Sang Professor. Karena kalian baru saja mencontoh kehidupan Beethoven." Bayangkan kalau kekeliruan keputusan yang kita ambil ini terjadi, tidak akan pernah terlahir seorang Beethoven di dunia ini dan mungkin Beethoven 2 yang lain.
Seorang wanita turut ambil bagian dalam proses penciptaan tubuh seorang anak, dan ketika anak itu bertumbuh, ia memelihara emosi dan pikiran si anak. Namun demikian, hanya Tuhanlah yang dapat menciptakan jiwa seorang anak. Jiwa harus memiliki tubuh. Tubuh harus memiliki jiwa. Allah dan juga si ibu adalah mitra dalam proses penciptaan seorang bayi sejak saat pembuahan.
Setiap ibu memiliki hak istimewa bersama-sama Allah dalam menciptakan kehidupan baru. Ia membantu menciptakan sebuah jiwa yang akan tetap abadi. Dan tidak ada hak yang lebih istimewa selain hak untuk bisa terlibat dalam penciptaan seorang manusia. Hal itu memerlukan iman yang sangat besar untuk bisa mewujudkannya.

Sasaran Pandangan yang Tepat

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan"
(Amsal 4 : 23)

Kesuksesan atau kegagalan dalam kehidupan kita tergantung dari sikap hati kita sendiri. Kata Alkitab: dari hatilah terpancar kehidupan. Pikiran-pikiran yang negatif dan kebimbangan membawa ketakutan dan frustasi. Supaya kita dapat mengalami secara pribadi anugerah Allah, kita harus menutup semua pintu pancaindera kita saat pencoban menyerang.
Petrus memandang kepada Yesus dan berdiri di atas FirmanNya, maka dia dapat berjalan di atas air. Tetapi, segera setelah dia mengijinkan pikiran yang negatif bekerja, maka ketakutan dan kebimbangan mulai menyerang hatinya. lalu dia jatuh dan mulai tenggelam, tak sanggup lagi berjalan di atas air.
Pada saat ombak bergelora menyerang kehidupan kita, bila kita berpikiran negatif, kita akan jatuh dalam kesulitan dan tak dapat bangun lagi. Jika kita tak waspada menjaga hati kita, maka kekalahan siap menghancurkan kita.
Waktu Nuh dan keluarganya berada di dalam bahtera dan melihat keadaan di luar bahtera, di mana keadaan dunia sekitarnya penuh dengan air bah yang mengerikan, maka pastilah hati mereka dicengkram oleh ketakutan yang luar biasa, sehingga tak mungkin mereka dapat keluar dari bahtera secara hidup. Bayangkan mereka hidup dalam bahtera itu lebih dari setahun lamanya sampai air bah surut.
Saat ini Yesus sedang menunggu engkau. Mengapa tak kau pusatkan imanmu padaNya? Hampiri Dia, pegang janji firmanNya, pasti kau akan menang dan berkat anugerahNya mengalir dalam hidupmu senantiasa!

Kebimbangan dan ketakutan akan menenggelamkan kita!

Sumber : Air Hidup

30 Juli 2010

Dasar Kepercayaan

"Kamu juga, ...telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita."
(Kolose 2 : 13)

Banyak Orang Kristen menceritakan bagaimana cinta mereka pada Kristus, tapi mereka kurang percaya dan kurang sukacita dalam hidup. Kalau mereka tertimpa suatu penyakit yang cukup parah, mereka sangat ketakutan dan takut mati. Mereka tak segan-segan mengeluarkan banyak uang untuk dipersembahkan ke gereja dengan suatu harapan. "Aku melakukan ini demi keselamatanku!" Mungkinkah ini?
Saudara, ini suatu perbuatan dan pengharapan yang keliru dan sia-sia, tak berdasarkan Alkitab sama sekali. Mereka lupa bahwa keselamatan tak dapat dibeli dengan uang atau dengan perbuatan baik kita!
Kata Alkitab: "...sekiranya ada kebenaran oleh hukum taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." (Galatia 2 : 21)
Segala perbuatan baik manusia sia-sia, kecuali oleh penebusan Kristus di kayu salib itu. Keselamatan dapat diperoleh jika sepenuhnya mempercayai Kristus Yesus dan penebusanNya di kayu salib, bukan berdasarkan pada perasaan atau logika kita.
Dalam Kolose 2 : 8 - 17 Paulus mengatakan kepada orang-orang percaya, bahwa walaupun dahulu mati oleh pelanggaran mereka, mereka telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, dan telah mengampuni segala pelanggaran mereka.
Apakah kau bersandar sepenuhnya pada pekerjaan penebusan Kristus yang telah selesai digenapiNya? Itulah dasar satu-satunya untuk percaya bahwa kau telah diselamatkan, tak peduli apa pun perbuatanmu pada waktu yang lampau. Atau masihkah kau bersandar pada kebaikan perbuatan dirimu sendiri?

Umat Kristen diselamatkan oleh penebusan Yesus Kristus, bukan oleh kebaikan dan kebenaran sendiri!

Sumber : Air Hidup

29 Juli 2010

Mengapa dibiarkan ada "DOSA" ?

"... di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,"
(Roma 5 : 20)

Sering orang bertanya, "Kalau memang Tuhan itu Maha Kuasa dan ada, mengapa semuanya ini terjadi? Mengapa Tuhan tidak mencegah sebelumnya, supaya orang tidak berbuat dosa? Tidakkah Dia mengetahui perkara yang bakal terjadi?" Tentu saja! Dia dapat membuat kita tahan/kebal terhadap dosa. Dia sanggup mencegah agar kita tak mengalami petaka. Tapi mengapa Allah tidak melakukan hal itu? Hari ini Alkitab menjawab: "...di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,"
Timbul pengertian kita: "Agaknya Tuhan memperkenankan kita mengalami berbagai kesulitan agar kita dapat mengalami anugerahNya yang tak terbatas itu, dan mengetahui bagaimana rasanya pertolongan Tuhan itu"
Seorang pembesar yang terkenal berkata, "Jika Anda pernah berada di dalam lembah gelap yang terdalam, barulah Anda dapat merasakan betapa indahnya berada di puncak gunung yang tertinggi!" Ungkapan ini mengingatkan saya akan kebenaran rohani yang lebih dalam. Tak seorang pun benar-benar dapat mengalami kasih Allah yang tak terbatas, kecuali bila ia pertama kali telah mengalami bagaimana dahsyat dan ngerinya dosa itu. Ini tidak berarti kita harus berbuat dosa terlebih dulu barulah kita dapat menerima kasih Ilahi sepenuhnya dalam hidup kita. Dan juga janganlah berkesimpulan bahwa Tuhanlah pencipta semua kejahatan dan malapetaka itu.
Setelah pengalaman kita akan berbagi dosa yang mengakibatkan semua kesulitan terjadi, lalu kita memperoleh Rahmat PertolonganNya, barulah kita mengerti akan "kasih karunia Allah menjadi berlimpah" dan mengerti pula betapa menjijikan dosa itu.

Kegelapan dosa sirna karena lampu anugerah Allah bersinar lebih terang!

Sumber : Air Hidup

27 Juli 2010

Kepuasan

"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar"
(I Timotius 6 : 6)

Rasul Paulus walaupun berada di penjara saat itu, menemukan kepuasan di dalam Tuhan. Tak peduli bagaimana keadaannya, damai sejahtera di dalam hatinya dan keyakinan tentang adanya Tuhan tak terguncangkan. Ia mengetahui akan kebenaran Firman Allah di dalam pengalaman pribadinya, yang kemudian ditulisnya kepada Timotius: "Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." Kepuasan jiwa hanya diperoleh di dalam Tuhan Yesus saja.
Banyak orang berpikir mereka akan puas bila mereka memiliki harta benda di dunia, banyak uang. Seorang pengusaha Kristen yang kaya kebetulan mendengar keluhan seorang karyawan: "Jika saja aku mempunyai uang 1 juta, niscaya aku cukup." Pengusaha ini tahu benar bahwa uang tak dapat memberikan kepuasan jiwanya, lalu ia berkata kepada karyawan itu, "Aku akan mengabulkan keinginanmu." Tak jauh ia melangkah, ia mendengar karyawan itu menggerutu, katanya, "Ah, mengapa aku tadi tidak mengatakan Rp. 2 juta saja?" Pengusaha itu tersenyum, karena ternyata jelas manusia tak akan puas dengan apa yang diperolehnya.
Banyak orang berkebudayaan dan berpendidikan tinggi, kaya, tapi mereka jauh dari kepuasan. Dunia tak bisa memberikan kebahagiaan sejati; kepuasan jiwani hanya diperoleh dalam Tuhan Yesus Kristus saja, maka berikan padaNya tempat yang utama di dalam hidupmu. Yesus berkata, "...mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (I Timotius 6 : 9)

Hanya Yesuslah yang memberi segala kebahagiaan dan kepuasan.

Sumber : Air Hidup

22 Juni 2010

Ketika Saya Kehilangan Harapan

Karena Allah telah berfirman : "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
(Ibrani 13 : 5b)

Leslie dilahirkan dengan keterbelakangan mental, tidak memiliki mata, dan mengalami kelumpuhan otak. Ia tidak dapat bereaksi terhadap bunyi-bunyian atau sentuhan. Ketika berumur enam bulan, ia diperkirakan akan segera meninggal. Seorang perawat bernama May Lernke diminta untuk merawatnya di rumah sampai bayi itu meninggal. Ia merawatnya ... Selama lebih dari tiga puluh tahun.
Ketika May menerima si bayi Leslie, ia menerimanya apa adanya ... Seorang bayi yang seperti juga bayi-bayi lain ... Harus dididik dan dicintai. Selama bertahun-tahun, ia merawat bayi itu, namun tidak ada gerakan atau reaksi. Walaupun demikian ia tidak pernah berhenti berbicara, menyanyi atau berdoa untuk bayi itu. Musik memenuhi rumah mereka ... Namun tetap tidak ada reaksi. May dan suaminya membeli sebuah piano bekas dan menaruhnya di kamar tidur si bayi. Ia memainkan piano itu. Dengan sangat kuat, ia tahu bahwa suatu hari nanti Tuhan akan menolong Leslie untuk bebas dari belenggunya. Ia sangat gembira ketika pada usia 16 Tahun Leslie mulai belajar berjalan.
Beberapa tahun kemudian, pada suatu malam May dan suaminya terbangun oleh suara piano yang memainkan Piano Concerto No. 1 gubahan Tchaikosvsky. Dengan terkejut mereka mendapati Leslie duduk dibangku piano sambil tersenyum. Tidak lama kemudian ia mulai berbicara dan menangis ... dan menyanyi. Pada usia 28 tahun ia mulai berbicara dengan lancar. Doa May telah terjawab pada waktunya sesuai kehendak Tuhan.

07 Juni 2010

Medan Kekuatan Doa

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
(Matius 7 : 7)

Komunitas "The Family International" New Delhi India, merayakan Natal tahun 2000 dengan sebuah berita buruk. Pesawat Indian Airlines bermuatan 120 orang, yang ditumpangi salah satu aktivisnya telah dibajak dan dibawa ke Afganistan. Keluarga, isteri dan anak dari aktivis ini tentu saja sangat gelisah mendengar kabar tersebut. Bahkan pada saat mendengar berita itu, semua aktivis "The Family International langsung berdoa memohon keselamatan para penumpang, terutama rekan sekerja mereka. Sementara temannya sedang diteror oleh para pembajak, aktivis lainnya harus meneruskan tugas pelayanan mereka untuk melayani di Panti Asuhan, penjara dan tempat penitipan anak, yang sudah dijadwalkan. Dan pada saat ada jeda waktu mereka menyempatkan diri untuk berdoa baik korporat atau pribadi untuk keselamatan rekan kerjanya.
Melalui siaran televisi diberitakan seorang pemuda telah dibunuh oleh si pembajak. Malamnya diberitakan bahwa para pembajak, mengancam akan membunuh satu penumpang setiap jamnya, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Mendengar itu Rohit Kumar salah satu aktivis segera masuk ke kamarnya dan berdoa. Ia tak dapat tidur memikirkan nasib rekan sekerjanya. Di pembaringan ia terus berdoa. Dan satu Firman Tuhan di Matius 7 : 7 melintas di benaknya. Firman Tuhan itu membangkitkan imannya, bahwa Tuhan sanggup menjaga apa yang kita percayakan kepadaNya. Malam itu Tuhan menaruh pesan yang kuat dihatinya. "Aku akan menahan tangan pembajak itu, tidak akan ada lagi orang yang binasa. Aku telah mengirimkan para malaikat yang kuat untuk mengelilingi pesawat itu , yang akan melindungi para penumpang. Teruslah berdoa sebab doamu membentuk medan kekuatan yang mengelilingi mereka. Engkau akan melihat sahabatmu keluar dari pesawat."
Lima hari berlalu setelah Rohit Kumar berdoa dan tidak ada lagi korban yang jatuh. 31 Desember malam, semua penumpang dibebaskan dan sahabat Rohitlah yang pertama kali keluar dari pesawat. Dari sahabatnya itulah Rohit mendapat peneguhan tentang pesan Tuhan yang ditaruh dihatinya. Setiap kali pembajak itu mau membantai penumpang, ada sesuatu yang menahan tangan mereka. Sungguh doa orang percaya menjadi benteng yang kokoh. Jangan berhenti untuk berdoa !!!

27 April 2010

Kesabaran

"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu."
(Ibrani 10 : 36)

Di jaman peternakan besar di barat, terkadang seekor keledai diikatkan kepada seekor kuda liar. Lalu keduanya dilepaskan di Padang Gurun. Sang Kuda Liar akan mengamuk, menyeret keledai kecil tersebut dan melemparkannya ke sana kemari seperti kantong makanan ternak. Tetapi beberapa hari kemudian keduanya akan kembali. Keledai kecilnya akan kelihatan terlebih dulu menuju peternakan sambil menyeret kuda liar yang sudah jinak itu.
Di Padang Gurun sang kuda akan kelelahan berusaha melepaskan diri dari sang keledai. Di saat itulah sang keledai yang menjadi tuannya. Hewan yang lamban, sabar dan tidak penting ini menjadi pemimpin atas hewan yang lebih cepat, lebih gesit dan lebih dihargai ini. Gambaran ini terkadang membuat kita tercengang dan tidak habis pikir bagaimana itu bisa terjadi? tapi itulah realitanya kesabaran si keledai berbuah manis.
Dalam kehidupan kita sehari-hari hal ini seringkali juga terjadi. Kesabaran itu memang pahit tetapi buahnya manis. Orang-orang yang sabar, berkomitmen, sistematis dan pekerja keras, mungkin saja menemukan diri mereka dilecehkan mereka-mereka yang lebih kasar di tempat kerja atau di komunitas mereka. Tetapi pada akhirnya, mereka cenderung mencapai lebih banyak, naik lebih tinggi dalam kariernya dan lebih disegani rekan-rekan sekerjanya maupun bawahannya.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah memiliki komitmen yang satu ini? Perlakuan-perlakuan buruk baik lewat perkataan maupun sindiran, ketidakadilan, dll yang Anda alami apakah itu mampu untuk membuat Anda terus bertahan dalam segala hal baik dalam pekerjaan secara sekuler atau pelayanan di ladangNya Tuhan? Pilihlah bersabar dan bertekadlah dalam hati hari ini, maka besok Anda akan mendapatkan imbalannya.

25 April 2010

Tak seorang pun Menghiraukan

"... tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak seorangpun yang mencari aku."
(Mazmur 142 : 5)

Daud menggambarkan keadaannya yang buruk waktu bersembunyi di Gua Adulam karena dikejar-kejar Saul. Dia berkata, "Tempat pelarian bagiku telah hilang, tak seorangpun yang menghiraukan aku."
Banyak orang dewasa ini merasakan keadaan yang sama seperti yang dirasakan Daud saat itu. Bukankah kita sering menggerutu pada saat-saat kita merasa kesepian dan ditinggalkan? Keadaan yang buruk itu seolah-olah terasa semakin parah waktu kita menghadapi pencobaan seorang diri, tanpa ada suatu senyuman, kata-kata yang menghibur atau uluran tangan, atau suatu perhatian secara pribadi dari orang lain mengenai kesejahteraan spiritual kita.
Sangat mengerikan bila kita bayangkan banyak orang di neraka berteriak, "Tak seorangpun menghiraukan jiwaku; tak seorangpun menceritakan kepadaku tentang Kristus; aku tidak diperingatkan tentang penghukuman Allah. "Ingatlah akan teman-temanmu, tetangga-tetangga, relasi bisnis dan keluargamu. Sudahkah kau mempunyai rencana menceritakan tentang keselamatan dari Allah kepada mereka? Atau akan kita biarkan saja mereka berteriak kelak di neraka: "Tak ada yang menghiraukan daku?"
Semoga hati kita tergerak dan terbeban untuk menyelamatkan orang lain untuk Kristus, jangan kita puas karena diri kita sudah selamat. Mari mulai hari ini kita ingat orang lain yang masih dikejar-kejar dosa, yang masih bersembunyi dalam gua yang gelap, yang mnginginkan secercah cahaya menembus hidup mereka. Perkenalkan Yesus Juruselamat itu!

Kita yang mengenal Allah harus menyalakan lampu keselamatan, agar sinarNya menembus lorong hati yang masih gelap.

Sumber : Air Hidup

24 April 2010

Tariklah Puntung dari Api !

"Tunjukkanlah belas kasihan..., selamatkanlah mereka dari api neraka..."
(Yudas 1 : 22, 23a)

Yesus makan dan bergaul secara bebas dengan orang-orang berdosa dalam usahanya untuk memenangkan mereka. Ia bukanlah manusia biasa, tapi ia mempunyai sifat manusia yang sempurna dan sifat keIlahian yang kekal, sehingga Ia kebal akan dosa. Sifat-sifat ini tak kita miliki, karena itu Yudas (saudara Yakobus), memperingatkan kita untuk melayani orang lain dengan kesadaran penuh akan kelemahan daging kita sendiri dan harus sangat hati-hati dalam perkara-perkara kejahatan manusia. Harus ada batas dan jangan kompromi dengan perbuatan mereka dalam usaha memenangkan mereka. Kita harus hati-hati dan menggunakan akal budi, kebijaksanaan Tuhan selaku seseorang yang menyelamatkan sesuatu harta dari lalapan nyala api. Kita harus sungguh-sungguh menarik jiwa-jiwa keluar dari api neraka, tetapi janganlah sampai kita sendiri terseret oleh dosa dan terbakar oleh jilatan nyala api tadi.
Bila oleh anugerah Tuhan kita mendapat kesempatan membawa kepada Kristus, seseorang yang telah begitu jauh terjatuh ke dalam dosa, teruskan berdoa untuknya; jangan sampai bara api dari kehidupan lama mengobarkan dia dalam dosa lagi. Untuk pribadimu sendiri, Mohonlah setiap saat Roh Kudus memeriksa keadaan hatimu, adakah dosa-dosa tersembunyi? Dosa yang tersembunyi ini ibarat api di dalam sekam, menghanguskan merusak rohani kita, berhubung di dalam Roh kita ada sesuatu yang tak berkenan di hadapan Allah. Kalau hatimu sering mengalami tidak sejahtera, undanglah Roh Kudus mengoreksi hatimu.

Dosa bagaikan tamu yang tak diundang yang membakar kehidupan dengan api

Sumber : Air Hidup

23 April 2010

Sebuah Penangkal

"Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."
(Efesus 4 : 29)

Seorang anak sedang menggunakan lem yang kuat untuk merekat pesawat mainannya dan jari kanannya terlekat pada salah satu sayapnya itu. Semakin ia berusaha melepaskan jarinya, semakin frustasi ia jadinya. Ketika akhirnya ia toh berhasil melepaskan jarinya, sakitnya tidak hilang selama beberapa hari. Jelaslah semangatnya untuk merakit pesawat tersebut lenyap.
Yang tidak disadari banyak orang kristen adalah bahwa kata-kata menghina, mengolok dan mengkritik, seringkali melekat seperti lem yang kuat. Semakin seseorang berusaha melepaskan dirinya dari komentar-komentar negatif atau citra diri negatif yang mungkin telah berkembang selama bertahun-tahun, semakin frustasi ia jadinya. Walau pada akhirnya sekali waktu dia bisa terlepas tapi rasa sakit itu tidak bisa hilang dalam hitungan jari. Butuh waktu !!!
Kalau pekerjaan seseorang dikritik dan diolok, tanpa melihat seberapa besar pengorbanan dan usaha yang dilakukan seseorang supaya pekerjaan itu selesai. Terkadang akan berakibat fatal bagi si penerima, ia akan cenderung tidak perduli terhadap pekerjaannya. Produktivitas serta kualitas bisa-bisa melorot dan bisa-bisa moralnya memburuk. Apalagi kalau disertai perubahan sikap kita sebagai orang yang merasa tidak pusa, kita menjadi garang, tidak ramah, tidak peduli dan tidak ada lagi komunikasi. Bom waktu siap untuk meledak !!!
Apakah penangkalnya? Pujian serta kata-kata dorongan yang positif. Mungkin sekali dalam beberapa ratus tahun seseorang hancur karena terlalu banyak dipuji, tetapi yang jelas sekali dalam beberapa menit seseorang remuk hatinya karena tidak mendapat pujian. Penghargaan tidak selalu harus berupa uang atau barang tetapi "rasa terima kasih" yang kita realisasikan dari raut wajah kita dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu yang tulus dan ramah terkadang itu jauh lebih cukup dari uang dan barang.

22 April 2010

Doa yang sia-sia

"... Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya."
(I Yohanes 5 : 14)

Salah satu kerugian yang terbesar bagi umat Kristen ialah doa yang tak berguna dan tak ada artinya. Kita selalu berdoa minta perkara-perkara yang Tuhan telah janjikan. Seharusnya kita berterima kasih untuk segala perkara yang Dia sudah nyatakan akan dilakukanNya bagi kita.
Alkitab adalah suatu buku ajaib yang berisi ribuan janji Allah. Ibaratkan saja setiap janji itu berupa cek yang telah ditandatangani Allah. Janganlah meminta Tuhan untuk menepati janjiNya, seolah-olah Ia tak mau memenuhinya dan kita memaksa Dia berbuat demikian. Sebaliknya isilah cek yang belum tertulis rincian kebutuhan tadi denganiman, percayalah dan kemudian bersyukurlah kepadaNya untuk jawaban yang sedang di perjalanan itu! Dia bukan Allah yang pembohong! Ingat akan firmanNya yang berbunyi:"Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukanNya, atau berbicara dan tidak menepatiNya?"(Bilangan 23 : 19).
Berdoalah saja sesuai kehendakNya, dan pujilah Dia untuk berkat yang telah disediakanNya. Engkau harus yakin bahwa permohonanmu sudah dijawab, hanya tunggu kiriman itu tiba di tanganmu. Sesuai dengan janjiNya, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu ..." Ucapkan syukur kepadaNya atas jawaban itu, yakinlah dan tak usah gelisah lagi! Hanya imanlah yang dapat menyebabkan kuasa Allah bekerja, bukan doa yang sia-sia tanpa iman.

Allah tak perlu didobrak untuk mengingatkan Dia memenuhi janjiNya!

Sumber : Air Hidup

20 April 2010

Ujian Iman

"Tuhan bersemayam di atas air bah ..."
(Mazmur 29 : 10a)

Pada saat ujian kita mencapai titik puncaknya, Yesus datang menghampiri kita. "kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air." Matius 14 : 25
Waktu angin dan gelombang melanda, kita berpikir Yesus sudah meninggalkan kita, tapi sebenarnya angin dan gelombang merupakan cara Dia datang kepada kita. Alkitab berkata; "Tuhan bersemayam di atas air bah,..."
Jam tiga malam adalah jam-jam yang paling gawat. Biasanya orang tertidur sangat lelapnya. Pencuri pun datang pada saat yang terlena ini; demikian pun Iblis datang pada saat-saat ini. Pada jam-jam selena ini Yesus menguji iman murid-muridNya.
Waktu menghadapi ujian kita sangat menderita, tak ubahnya seperti melalui malam gelap yang tak terkatakan. Allah mengijinkan semua ini terjadi agar iman kita bertumbuh lebih kuat. Ujian iman menyerupai angin badai, sangat mengerikan dan dahsyat, menyebabkan kita letih tak berdaya. Tetapi ... ingatlah di tengah-tengah dahsyatnya badai dan gelombang, Yesus datang mengulurkan tanganNya kepadamu.
Murid-murid Yesus ketakutan tatkala melihat Yesus datang di atas air, disangkanya hantu. Di zaman modern ini juga orang memandang mukjizat yang diadakan dengan nama Yesus sebagai hal-hal tahayul, hipnotisme, sugesti, dan sebagainya. Bila engkau menanggapi mukjizat Allah sebagai suatu 'hantu', maka engkau selamanya tak akan pernah mengalami mukjizat pertolonganNya. Terimalah mukjizat sebagai mukjizat, bukan sebagai 'hantu'! Jangan melihat pada angin, gelombang dan kegelapan malam, Yesus sanggup meneduhkan angin dan gelombang yang menyerang hidupmu. Dia Allah yang ajaib, bukan hantu!

Melalui laut jalanNya, dan lorongNya melalui muka air yang luas, tetapi jejakNya tak kelihatan!

Sumber : Air Hidup

19 April 2010

Taat karena penderitaan

"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu."
(Mazmur 119:71)

Pemazmur ini mengakui bahwa sebelum ia tertindas, dia menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Tetapi setelah dia menderita dan mengalami kesulitan-kesulitan barulah dia belajar mencari petunjuk-petunjuk Allah.
Ada seorang gembala domba yang mencambuki dombanya hingga kakinya patah. Hanya jalan itulah yang terbaik bagi domba yang nakal itu agar tidak berkeliaran lagi di tempat-tempat berbahaya. Domba-domba yang telah diajar sedemikian ini akan taat padanya seteah mendapat perawatan dan pemulihan kembali akan kesehatannya. Domba itu tak berani lagi pergi sekehendak hatinya.
Kita domba-domba Allah cenderung untuk menyimpang dari jalan Allah, senang mencari jalan sendiri menelurusi lorong-lorong gelap. Kita tersesat, Gembala yang baik - Yesus Kristus - membawa kita kembali pulang ke kandang. Berulang kali kita berbuat yang sama, digendongNya kita dibawa pulang, tapi kita tak mau menyerah dan tak mengerti kasihNya, kita memberontak meronta melepaskan diri dari gendongan. Kita terlepas, lari sendiri lagi, kembali tersesat; akhirnya terjerumus ke dalam lembah penderitaan yang dalam. Karena sakit dan penderitaan, teringat kita akan kehangatan kasihNya. Kita datang padaNya, dengan kasih ditolongNya kita, dibalutNya segala luka kita. Dari pengalaman yang pahit ini, kita belajar taat pada ketetapan-ketetapanNya dan selalu dengar akan suaraNya yang manis yang memanggil bila kita akan tersesat!
Tuhan memperkenankan penderitaan atas kita bukan untuk menjerumuskan, tapi untuk memperbaiki!

Sumber : Air Hidup

09 April 2010

Putus Asa

"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang fana"
(I Petrus 1 : 18 - 19)

Pada suatu ketika, iblis mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas "kerajaannya". Pada hari H, seluruh perkakasnya dipajang untuk dilihat oleh para pembeli, lengkap dengan harga jualnya. Barang yang dijual antara lain : dengki, iri, dendam, tidak jujur, malas, tidak menghargai orang lain, tak tahu berterima kasih, dll.
Di suatu pojok display ada suatu perkakas yang bentuknya sederhana bahkan sudah agak aus, tetapi harganya paling tinggi diantara yang lain. Salah seorang pembeli bertanya, Alat ini apa namanya?", iblis menjawab, "oh ... itu namanya Putus Asa." "Kenapa harganya mahal sekali, kan sudah aus ...?" Ya karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya biasa dengan mudah masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini dibandingkan dengan perkakas yang lain.
Begitu saya berhasil masuk, dengan mudah saya dapat melakukan apa saja yang saya inginkan terhadap manusia tersebut. Tahukah Anda kenapa barang ini menjadi aus? Karena saya sering menggunakan kepada hampir semua orang. Kebanyakan manusia tidak tahu kalau PUTUS ASA itu sebenarnya milik saya."
Jadi jika saat ini Anda sedang ber-PUTUS ASA, maka ingatlah itu bukan berasal dari TUHAN! Segala sesuatu yang melemahkan iman berasal dari iblis ... Waspadalah, jangan menjadikan diri kita bulan-bulanan iblis. Hari , Bangkit dan katakan pada iblis, "Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku, bersamaNya aku tidak akan goyah" Lalu melangkahlah dengan iman dan milikilah sikap dan mentalis seorang "pemenang"

08 April 2010

Kepura-puraan

"aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan sinear (Babilon), ... aku mngingininya, maka kuambil; ..."
(Yosua 7 : 21)

Babilon melambangkan kepura-puraan untuk memperoleh pujian dari orang lain. Waktu Akhan ambil jubah Babilon itu, kemungkinan hanyalah ingin memperindah dirinya sendiri dengan tujuan dipuji orang. Kita dapatkan dosa yang sama dalam Kisah 5 : 1 - 11: Ananias dan Safira mendukakan Roh Kudus dengan cara berdusta, menahan sebagian dari hasil penjualan tanahnya. Ibadah mereka kepada Allah hanya setengah-setengah saja, tetapi mereka ingin dilihat orang lain sebagai orang yang mencintai Allah dengan segenap hati.
Sangat berbahaya bagi anak Tuhan - yang berpura-pura rohani - menggunakan jubah rohani di dalam gereja, tapi di rumah lain lagi. Jubah yang dikenakan tidak sesuai dengan kehidupan aslinya, bisa berubah-rubah cioraknya.
Hidup kita hendaknya benar di hadapan Allah, bukan hidup munafik, mengenakan berbagai jubah 'Babilon'. Bagaimana tindakan / sikap kita terhadap pembantu rumah tangga kita? Apa kita sudah mengenal artinya kasih Kristus itu? Bagaimana hati kita terhadap teman-teman seiman kita? Majikan-majikan bagaimana dengan karyawan? Hamba-hamba Tuhan bagaimana hidupmu sebenarnya? Suami-suami/isteri-isteri, jubah apa yang kau kenakan?
Saat ini marilah kita berani tanggalkan semua jubah 'Babilon' kita dan kenakan 'jubah kebenaran'. Bapa di surga mencari orang yang sederhana, tapi yang menyembah Dia dalam Roh dan Kebenaran.
Perbuatan-perbuatan yang baik selalu diikuti oleh kebahagiaan yang kekal

Sumber : Air Hidup

07 April 2010

Dimanakah Jangkarmu ?

"PadaMu, ya Tuhan, aku berlindung..."
(Mazmur 71 : 1a)

Seorang jurumudi yang masih muda sedang panik, kapalnya diserang taufan yang dasyat. Untuk mempertahankan kapalnya, ia bermaksud memasang jangkar memilih tempat yang cocok. Segera jangkar ditempatkan di kapalnya sendiri; ditaruhnya di haluan kapal, tetapi angin tetap mengombang-ambingkan kapal. Tetap sama tak ada hasilnya, bahkan kapal makin terombang ambing karena badai bertambah keras.

Jangkar itu tak dapat berfungsi sendiri, kecuali bila jangkar itu dijatuhkan di kedalaman laut, barulah alat ini dapat berhasil melawan badai.

Demikian juga bila seseorang mendasarkan kekuatan dan keyakinannya pada diri sendiri, ia takakan pernah mengalami keteduhan dan keselamatan. Tindakan semacam ini sia-sia, seperti tindakan nahkoda tadi. Pasanglah jangkar imanmu ke dasar yang dalam dari kuasa dan kasih Allah. Tanamkan percayamu pada Dia Yang Maha Kuasa, maka hatimu akan menemukan keteduhan, damai sejahtera walaupun kau diombang-ambingkan badai percobaan.

Bila harapanmu untuk melawan badai kehidupan ini kaulandaskan atas kesanggupan dan kekuatanmu sendiri, maka keyakinanmu itu secara tragis salah penempatannya. Raja Daud mengetahui cara yang tepat dan benar. Dia berkata, "Sesungguhnya gelora-gelora maut telah mengelilingi aku, banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,... dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan,... Dan Ia mendengar suaraku..." (2 Samuel 22 : 5, 7). Ia menaruh kepercayaannya pada Allah; dia berlindung pada Tuhan!

Orang yang hidup dengan iman dan berlindung pada Allah akan sejahtera!

Sumber : Air Hidup


01 April 2010

Buatlah lebih dahulu Bagiku!

"...sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung ... dan sedikit minyak... "
(I Raja-raja 17 : 12a)

Pada saat kekeringan, Elia pergi ke Sarfat. Dia bertemu seorang janda dan berkata kepadanya, "Cobalah ambil bagiku sedikit air..., ambil juga bagiku sepotong roti." (I Raja-raja 17 : 10c, 11). Jawab perempuan itu, "...sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli." Lanjutnya: "...kemudian aku mau...mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." Tetapi kata Nabi Allah itu, "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu." Sebab Firman Tuhan mengatakan: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi." (I Raja-raja 17 : 12 - 14).
Apakah Anda mengalami keadaan seperti perempuan janda ini? Jangan takut, kata Tuhan, "Buatlah dahulu bagiku...!" Sebelum Tuhan memberkati kita, terlebih dahulu kita memperhatikan Tuhan, persembahkan lebih dahulu kepada Tuhan. Mengapa Elia minta roti bundar? Bundar berarti seutuhnya. Serahkan hatimu seutuhnya kepada Yesus, tidak berbagi pada ilah-ilah lain. Dia sanggup memberkatimu, mengubah keadaan hidupmu; Dia ajaib! Dia berkata,"...barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4 : 14)
Dahulukan Tuhan, maka Tuhan juga akan memperhatikan engkau!

Sumber : Air Hidup

.:: Copyright ::.


This Blog is a registered trademark of DJEVEE Group All rights reserved.
Copyright © October 2009
Powered by Djevee