31 Maret 2010

Iman akan hari depan

Ketika kita mendengar kata masa depan, apa yang terlintas di dalam benak Anda? Sebuah kondisi yang menakutkan atau justru memandangnya sebagai masa dimana janji Tuhan akan semakin digenapi dalam hidup Anda? Jawaban ini akan tergantung Anda melihatnya menggunakan apa, iman atau rasa takut Anda?

Sebagai orang percaya, kita harus bergerak maju dengan yakin, berdasarkan kebenaran yang kekal Firman Allah. Lihatlah kisah Yosua yang ditulis dalam Alkitab. Setelah 40 tahun di padang gurun, bangsaIsrael akhirnya siap untuk memasuki tanah yang dijanjikan. Allah mengatakan kepada Yosua, "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu. Sebab Aku akan menyertai engkau....Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."(Yosua 1:2, 3b, 5b).

Allah telah berjanji kepada orang-orangNya suatu tanah yang melimpah susu dan madu, dipenuhi dengan kebun-kebun anggur, mereka tidak menanam dan tidak perlu lagi membangun kota-kota. Semua itu telah ada untuk mereka ambil. Tetapi, pertama mereka harus berjuang terlebih dahulu!

Allah pun menguatkan hati Yosua untuk berperang, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu" (Yosua 1:6,7,9). Dalam iman, Yosua memimpin bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan dan menghancurkan tembok Yerikho. Tanah Kanaan pun berhasil dikuasai bangsa Israel pada masa kepimimpinannya.

Dari kisah diatas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan dan menguasai semua tanah disana, itu hanya bisa terjadi karena Yosua dan prajurit memegang firman Allah. Mereka tahu jika Tuhan ada bersama mereka, mereka tidak akan pernah gagal!

Hari ini, Allah terus mengatakan kepada umat-Nya, "Aku akan menyertai engkau! Kuatkan dan teguhkan hatimu!"

Sumber : Jawaban

30 Maret 2010

Mendobrak Allah

"...karena sikapnya yang tidak tahu malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya."
(Lukas 11 : 8b)

Bacalah Lukas 18 : 1- 8 ini, agar mengerti judul di atas. Perumpamaan "hakim yang tak benar" umumnya banyak disalah mengertikan oleh orang. Perhatikanlah baik-baik: hakim itu sebenarnya tak mau mengabulkan permintaan janda itu, tapi karena ia merasa terganggu dengan permintaan yang terus menerus, dan janda itu dianggao tak tahu malu, akhirnya ia mengabulkan permintaan janda itu supaya ia tak diganggu lagi.
Orang sering menyarankan: "Berdoa terus dan minta terus sampai akhirnya Tuhan menjawab doamu!" Perumpamaan di atas mengandung suatu kebenaran yang berbeda. Yesus berkata bahwa hakin itu tidak mau menolong, tetapi agar dia tak diganggu lagi, maka dia akhirnya mengabulkan permintaannya. Janda itu mendobrak hakim tersebut sampai akhirnya hakim itu terpaksa mengabulkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya. Kehendaknya ialah: tidak mau menolong.
Allah kita bagaimana pun juga bukan hakim yang tak benar, tapi Dia Bapa kita yang penuh kasih, selalu ingin mendengar dan menolong kita! Allah tak perlu digertak atau diancam demikian rupa dengan permintaan doa kita yang bersifat menyerang.
Cara beberapa orang Kristen berdoa dengan menjerit atau memohon dengan paksa, menyebabkan orang berpikir bahwa Allah itu mati atau tertidur, sehingga ia harus dipaksa untuk mendengarkan kita. Kuasa di dalam doa adalah iman, bukan demonstrasi di luarnya. Ingat Yesus sendiri berkata, "Apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."
Doa Elia singkat, penuh iman dan berkuasa lebih dari pada doa nabi Baal dengan jeritan yang keras!

Sumber : Air Hidup

29 Maret 2010

Kebaikan yang ikhlas

"Janganlah jemu-jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah"
(Galatia 6 : 9)

Seorang mahasiswa dari sebuah Universitas di Jakarta kala itu sedang melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah pelosok. SUatu ketika ia merasa kepanasan, lalu mampir di suatu rumah untuk meminta minum. Bapak yang punya rumah tidak memberinya air putih, tetapi ia memberi segelas susu sapi, karena bapak itu mempunyai seekor sapi perah.
"Pak, saya cuma minta air," kata mahasiswa itu. Bapak itu lalu menjawab, "Nak, di sini airnya mentah, lebih baik minum saja air susu". Diminumnya air susu itu, lalu bertanya, "Berapa Pak?" "Tidak perlu bayar, bapa sudah ikhlas memberikan air susu itu kepadamu."
"Sebelum berpisah, mahasiswa itu mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan alamatnya di Jakarta.
Beberapa tahun kemudian bapak tersebut terkena penyakit kanker. Ia pun harus menjual sawahnya untuk biaya pengobatan. Oleh anak gadisnya ia lalu dibawa ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Ternyata biaya operasi, obat-obatan dan dokter, semuanya berjulah enam juta rupiah. Sedangkan hasil penjualan sawah belum bisa mencukupinya.
Anak gadisnya menjadi gemetar ketika mengetahui jumlah yang harus dibayar. Lalu, ia meminta waktu untuk melunasi, tetapi petugas kasir menyuruhnya membaca di bagian bawahnya. Ketika dibaca, ternyata sudah ada tanda luna! Dan, dibawahnya lagi ada tulisan "harga segelas susu". Ternyata dokter spesialis yang mengoperasinya itu adalah mahasiswa yang dahulu minum susu di rumahnya.
.:: Copyright ::.


This Blog is a registered trademark of DJEVEE Group All rights reserved.
Copyright © October 2009
Powered by Djevee